Konsumsi Beras Pengaruhi Garis Kemiskinan Terbesar di Bengkulu
AMBONEWS.COM, Bengkulu - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu mencatat konsumsi pangan terbesar masyarakat Provinsi Bengkulu adalah beras dan non pangan ada di perumahan.
Per September 2018 hingga September 2019 konsumsi beras masyarakat perkotaan sebesar 17,57 persen naik menjadi 17, 76 persen, sedangkan masyarakat pedesaan sebesar 24,23 persen naik menjadi 24,88 persen.
"Kalau kita lihat, dari 2.100 koli kalori konsumsi pangan, ternyata beras memegang bobot tertinggi, untuk September 2019 berarti sumbangannya terhadap garis kemiskinan sebesar 17,76 persen diperkotaan dan di pedesaan itu hampir 25 persen, jadi artinya beras itu sangat-sangat dominan terhadap pola konsumsi gaya hidup masyarakat baik di perkotaan maupun di pedesaan," Ungkap Kepala BPS Provinsi Bengkulu Diah Anugerah Kuswardani saat merilis potret kemiskinan Provinsi Bengkulu di Kantor BPS Provinsi Bengkulu, Rabu (15/1).
Akan tetapi, lanjut Diah lebih berperan pada masyarakat pedesaan daripada masyarakat perkotaan, karena masyarakat diperkotaan banyak memiliki alternatif makanan lain, seperti roti dan sebagainya, sementara di pedesaan untuk sarapan utamanya mungkin nasi.
"Disini peranan beras itu sangat tinggi, terutama di pedesaan, jadi kalau naik sedikit saja harga beras, itu pengaruhnya sangat besar pada garis kemiskinan dan akibatnya akan mempengaruhi angka kemiskinan," Lanjut Diah.
Paling tidak, katanya, beras sejahtera (rastra) itu sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat miskin supaya ia tidak jauh lebih parah lagi keadaan perekonomiannya.
Beliau berharap, bantuan rastra di Bengkulu sudah terjangkau di sepuluh Kabupaten/Kota supaya bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat Bengkulu.
Pada urutan konsumsi terbesar kedua ada rokok filter kretek, dari 13,32 persen untuk masyarakat perkotaan naik menjadi 15,43 persen, sedangkan untuk masyarakat pedesaan dari 12,59 persen turun menjadi 11,22 persen.
"Yang sangat menyumbang garis kemiskinan untuk makanan, selain beras, posisi kedua itu pengeluaran rokok kretek," Imbuhnya.
Kemudian, diurutan ketiga ada konsumsi cabai merah, dari 2,40 persen naik menjadi 3,92 persen di masyarakat perkotaan dan 3,35 persen naik menjadi 4,64 persen di masyarakat pedesaan.
Sedangkan untuk konsumsi non pangan terbesar ada pada perumahan di perkotaan yang awalnya sebesar 8,6p persen turun menjadi 6,90 persen dan di pedesaan dari 7,55 persen naik menjadi 7,67 persen.
Lalu, konsumsi bensin masyarakat perkotaan 3,82 persen naik menjadi 5,19 persen sedangkan masyarakat pedesaan 3,37 persen naik menjadi 3,43 persen.
Ketiga ada konsumsi listrik masyarakat perkotaan sebesar 3,75 persen turun menjadi 3,73 persen, sedangkan masyarakat pedesaan dari 2,67 persen turun menjadi 2,55 persen. (Nay)