Skip to main content
Slerakan

UMKM Bangkit, Kolaborasi Aceh dan Bengkulu Menantang COVID-19

Bengkulu (AMBONEWS) – Orang mengira perkawinan kuliner nusantara adalah hal aneh dan jarang terjadi, namun tidak dengan dua pelaku usaha pinggiran ini.

Kembalinya kuliner khas minuman Kopi SLE Bengkulu berkolaborasi dengan Kedai Rakan Mie Aceh adalah sebuah terobosan.

Berawal dari kegelisahan pegiat unit mikro kecil menengah di masa pandemi, Bagus Yuarto sang peracik kopi tradisional ingin menghadirkan menu lebih menantang dari biasanya.

Bagus Yuarto mengatakan kembali dibukanya warung kopi khas rempah-rempah ini muncul saat kegelisahannya menyatukan lintas komunitas di masa pandemi COVID-19. Apalagi sejak terbakarnya kedutaan SLE di kawasan Pantai Panjang Bengkulu, menjadikan lintas komunitas anak muda seperti kehilangan tempat berkumpul.

Bagus mengatakan bulan Ramadan menjadi momentum dibukanya kedai ini. Ide mengawinkan menu lintas masa juga menjadi tantangan baginya.

Bersama Ahdika Fiqriansyah atau Koki Fikri, pemuda berumur 19 tahun asal aceh dan bertatus sebagai mahasiswa ini, berinisiatif mengembangkan bisnisnya di masa pandemi bersama kedai Kopi SLE. Sebab Fikri mengaku saat menjalankan usaha di masa pandemi yaitu susahnya pemasaran pruduk.

Demikian alasan berkolaborasi bersama kedutaan Republik SLE-Rakan yaitu, untuk sama-sama memajukan brand dan bisa bersaing di pasar nasional bahkan internasional.

“Karena republik SLE juga sudah mempunyai nama besar di Bengkulu. Harapan kedepannya bisa mengembangkan produk agar bisa dikenal di wisata kuliner nasional, dengan membawa nama besar Aceh dan Bengkulu,” kata Fikri, Minggu (2/5/21).

Dua menu andalan tentunya, Mie Aceh dan Kopi SLE yang tentu akan memanjakan lidah para penikmat kuliner antimainstream. Sebab, paduan pedasnya mie Aceg dan hangatnya Kopi SLE jadi alasan tersendiri bagaimana UMKM ini kembali hidup.

Keduanya memiliki kesamaan pola racik rempah-rempah.

SLE berbahan dasar kopi dicampur jahe dan kayu manis serta irisan jeruk nipis, berpadu dengan biji kapulaga dan juga cengkeh dihidangkan dengan gula aren di suhu 100 derajat celsius.

Sementara Mie Aceh buatan koki Fikri, adalah masakan pedas khas Aceh berbahan mie kuning tebal dengan irisan daging sapi, daging kambing atau makanan laut (udang dan cumi) disajikan dalam sup sejenis kari yang gurih dan pedas.

Fikri menyajikan tiga jenis menu, Mie Aceh Goreng (digoreng dan kering), Mie Aceh Tumis (dengan sedikit kuah) dan Mie Aceh Kuah (sup). Bertabur bawang goreng dan disajikan bersama emping, potongan bawang merah, mentimun, dan jeruk nipis demikian kayu manis di dalamnya.

Paduan rasa keduanya berkhasiat menambah vitalitas pria dewasa. Bagi yang memiliki masalah masuk angin dan pegal-pegal, makan Mie Aceh dan minum Kopi SLE bisa menjadi pilihan. Sebab pedas dan hangatnya kedua menu ini dapat membuat penikmat kuliner berbasahan peluh.

Bagus berharap dibukanya kembali kedai ini jadi tempat berkumpul teman-teman dan berbagi ilmu di meja makan.

“Moga-moga ini jadi pusat kuliner, tongkrongan dan tempat kawan-kawan semua berkeluh kesah, berbagi pengalaman dan memulai cerita baru,” kata Bagus.

Sementara itu, konsumen pertama kuliner ini, Nia mengatakan keduanya adalah makanan yang pas. Apalagi bagi seorang pecinta mie, Mie Aceh ini adalah masakan enak yang cocok dimakan kapanpun dan dalam kondisi apapun. Apalagi bagi kalangan mahasiswa, Mie Aceh dan Kopi SLE ada sepaket makanan hemat yang wajib dicoba.

Kedai Rakan ini bertempat di Jalan WS Supratman, sesudah simpang tiga Jalan Bandaraya, atau sekira setengah kilo meter setelah Universitas Bengkulu.

Bermodal Rp10 ribu hingga Rp25 ribu, kamu sudah bisa menikmati dua menu ekslusif ini. Ada pula Ayam Katsu Rp15 ribu, Ayam Penyet lengkap Rp12 ribu, dan Buko Pandan Rp 10 ribu. Juga tersedia aneka minuman khas lainnya bersama menu yang jarang ditemui di tempat lain.

Waktu bukanya pun panjang, dari pukul 9.00 WIB sampai pukul 00.00 WIB, para pemburu kuliner dan lintas komunitas dapat menikmati hidangan dan wejangan pemilik kedai.